Breaking News

Teori Belajar Behavioristik

Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan. Dalam pandangan behaviorisme, belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Berbeda dengan aliran kognitif, behaviorisme menekankan kepada perlunya perilaku (behavior) yang dapat diamati.
Ciri-ciri rumpun teori ini adalah: (1) mengutamakan unsur-unsur bagian kecil, (2) bersifat mekanis, (3) menekankan peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan respon, dan (5) menekankan pentingnya latihan.
Behaviorisme bagian dari aliran psikologi yang memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmnaiah, dan mengabaikan aspek aspek mental seperti kecerdasan dan bakat. Hasil olah pemikiran mereka tidak lepas dari penelitian dengan mengambil sampel hewan (kucing, tikus, dan anjing).
Bagi mereka, peristiwa belajar semata-mata dilkukan dengan melath reflex-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang akan dikuasai oleh individu.
Artikel ini akan membahas tentang teori belajar behaviorisme, mulai dari asumsi-asumsi dasar behaviorisme, turunan teori behaviorisme yang dikembangkan pelbagai pakar (Ivan Pavlov, BF Skinner, E.L Thorndike, J.B Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie dan Tokoh-Tokoh Behaviorsme zaman modern), dan auto kritik terhadap teori ini.

Asumsi-Asumsi Dasar Behaviorisme

Ellis Ormord menjelaskan beberapa asumsi yang digunakan oleh praktisi behaviorisme yang menjadi acuan cara pandang mereka. Beriku asumsi dasar behaviorisme:
Perilaku orang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan stimulus-stimulus lingkungan. Behaviorisme percaya bahwa seorang dilahirkan seperti kertas kosong. Linkungan akan menulis kertas kosong tersebut.
Belajar dapat digambarkan dalam kerangka asosiasi di antara peristiwa-peristiwa yang dpaat diamati yaitu, asosiasi antara stimulus dan respon. Mereka menyakini bahwa fenomena yang terjadi pada diri seorang (pikiran, keyakinan dan perasaan) tidak dapat diamati kecuali melalui pemeriksaan psikologis yang berfokus pada respon (Rs) dan stimulus lingkungan (Ss).
Belajar melibatkan perubahan perilaku. Belajar sebagai perubahan dalam perilaku karena pengalaman.
Belajar cenderung terjadi ketika stimulus dan respons muncul dalam waktu yang berdekatan. Supaya hubungan stimulus dan respon berkembang, kejadian-kejadian tertentu harus terjadi bersamaan dengan kejadian-kejadian yang lain sehingga ada kontiguitas di antara kejadian-kejadian tersebut.
Banyak spesies hewan, termasuk manusia belajar dengan cara-cara yang sama. Ilmuwan behavioris terkenal dengan eksperimen mereka menggunakan obyek hewan. Mereka berasumsi bahwa banyak spesies yang memiliki proses belajar yang sama. Mereka menerapkan prinsip-prinsip belajar yang diperoleh setelah pengamatan terhadap sebuah spesies pada suatu pemahaman mengenai bagaimana spesies-spesies lain (termasuk manusia) belajar.

Turunan Teori Behaviorisme

 Berikut ini beberapa teori belajar yang berbasis pada behaviorisme.
 1. Classical Conditioning Ivan Pavlov
Biografi singkat
Ivan Petrovich Pavlov adalah ahli fisiologi dan psikolog Rusia kelahiran 26 September 1849-27 Februari 1936. Ia dikenal karena teorinya yang berjudul pengkondisian klasik sekaligus menjadi salah satu tokoh behavior terkemuka. Ivan Pavlov belajar ilmu alam di Universitas Saint Petersburg. Masa mudanya sangat dipengaruhi oleh Ivan M Sechenov (pakar fisiologi Rusia yang mempelopori elektrofisiologi dan neurofisiologi dalam pengajaran kedokteran).
Setelah dari Petersburg, Pavlov belajar di Jerman di mana ia belajar di Leipzig bersama dengan Carls Ludwig dan laboratorium Heidenhain, Breslau. Di sana ia mempelajari pencernaan anjing. Pada tahun 1886, Pavlov kembali ke Rusia sebagai tenaga pengajar farmakologi di Universitas Tomsk setelah permohonannya mengajar di Saint Petersburg di tolak. Pada tahun 1890, ia ditunjuk sebagai professor farmakologi Akademi Medis Militer hingga akhirnya Pavlov diminta mengajar di almameternya.
Pavlov mendapat penghargaan nobel fisiologi pada tahun 1904 atas karyanya dalam penelitian fisiologi pencernaan. Tiga tahun kemudian ia terpilih sebagai anggota asing Royal Society dan mendapat penghargaan Copley Medal dari Royal Society pada tahun 1915.
 Classical Conditioning
Classical conditioning adalah proses dimana suatu stimulus/rangsangan yang awalnya tidak memunculkan respon tertentu, diasosiasikan dengan stimulus kedua yang dapat memunculkan. Secara sederhananya, pengkondisian klasik merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan dimana satu stimulus/rangsangan muncul menggantikan stimulus yang lainnya dalam mengembangkan suatu respon.
Ivan Pavlov membangun riset dengan melakukan penelitian perilaku dengan obyek seekor anjing seperti yang digambarkan di bawah ini.
Teori Belajar Behavioristik
Keterangan:
Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.
Gambar ketiga.Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dari penelitian diatas, Pavlov kemudian mencetuskan dua hukum belajar:
  1. Law of Respondent Conditioning, yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (salah satunya sebagai reinforce), maka reflex dan stimulus lainnya akan meningkat.
  2. Law of Respondent Extinction, yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika reflex yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforce, maka kekuatannya akan menurun.
 Implementasi dalam kelas
Prinsip teori belajar Classical Conditioning Pavlov menjelaskan bahwa belajar merupakan pembentukan kebiasaan dengan cara menghubungkan antara perangsang/stimulus yang lebih kuat dengan perangsang yang lebih lemah, proses belajar terjadi apabila ada interaksi antara organisme dengan lingkungan.
Bagaimana implementasi dalam pembelajaran di kelas?.
Saya kutip dari Titin Nurhidayati sebagai berikut:
(1) Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas tugas belajar,
(2) Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau menekan
(3) Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasikan secara tepat
(4) Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugastugas belajar
(5) Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau menekan, dan
(6) Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasi
 2. Operant Conditioning BF Skinner
 Biografi singkat
Burrhus Frederic (BF) Skinner adalah psikolog Amerika kelahiran 20 Maret 1904 (meninggal 18 Agustus 1990) yang dikenal atas teorinya pengkondisian operan. Skinner mengenyam pendidikan di Hamilton College, New York kemudian melanjutkan studi diUniversitas Harvard hingga memperoleh gelar Ph.D. Setelah lulus, Skinner mengajar di Universitas Minnesota, Indiana University dan kembali ke Harvard hingga menjadi Professor Edgar Pierce sampai pensiun.
BF Skinner psikolog produktif. Karyanya yang berjudul Walden Two dan Beyond Freedom and Dignity menjadi simpul majalah TIME. Walden Two menggambarkan komunitas eksperimental fiksi tahun 1940an di Amerika Serikat. Produktivitas dan kebahgiaan warga di komunitas tersbeut jauh lebih besar daripada di dunia luar karena penduduk mempraktifkan perencanaan sosial ilmiah menggunakan pengkondisian operan dalam membesarkan anak-anak mereka. Dalam bukunya yang berjudul Freedom and Dignity, Skinner mempromosikan filosofi sains Skinner, teknologi perilaku manusia, konsep tentang determinisme, dan apa yang disebut Skinner dengan rekayasa budaya.
 Teori Operant Condition
Skinner berpendpat bahwa setiap proses pembelajaran merupakan suatu perubahan dari perilaku manusia. Perubahan perilaku merupakan hasil dari reaksi/respon masing-maisng individu terhadap suatu stimulus/kejadian yang dialami.  Suatu perilaku akan muncul setelah mendapat stimulus, berupa reward atau akan hilag jika mendapat punishment.
Teori Skinner kemudian dikembangkan menjadi teori ABC (Anticenden-Behaviour-Consequences) yang banyak digunakan oleh psikolog/guru dalam pembentukan perilaku siswa.
Teori Operant menghasilkan dua hukum, yakni:
  1. Law Operant Conditioning. Jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
  2. Law of Operant Extinction. Jika timbulnya perilaku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning tidak diiringi stimulus, maka kekuatan perilaku akan menurun bahkan hilang.
 Implementasi di Kelas
  1. Guru harus membuat programmed instruction (pengajaran yang terprogram) dengan menggunakan media, modul atau media-media yang lain.
  2. Guru harus pandai dalam memberikan penguatan positif dan penguatan negative.
  3. Selain Reinforcement, ada dua metode penting yang dapat digunakan dalam pengembangan perilaku, yakni shaping dan modeling. Shaping adalah penggunaan langkah-langkah kecil yang digabungkan dengan umpan balik untuk membantu siswa mencapai tujuan. Modeling adalah bentuk belajar dengan menyasikkan perilaku orang lain.
 3.Koneksionisme Edward Lee Thorndike
 Biografi Singkat
Edward L Thorndike, psikolog Amerika kelahiran 31 Agustus (meninggal 9 Agustus 1949) yang dikenal atas teorinya psikologi komparatif dan teori koneksionisme. Psikolog kelahiran Massachusetts tersebut belajar di Universitas Wesleyan, melanjutkan studi master di Harvard dan Ph.D di Columbia University. Sama seperti Pavlov, Thorndike mulai tertarik mempelajari perilaku hewan ketika di Harvard University.
Hukum Belajar Thorndike
Seperti behavior yang lain, Thorndike juga menggunakan hewan sebagai obyek penelitian. Menurut dia, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (s) dan respon (r).
Stimulus adalah suatu perubahan lingkungan eksternal yang menjadi tanda mengaktivkan organisme untuk beraksi, sedangkan respon adalah segala tingkah laku yang dimunculkan karena adanya rangsangan.
Dalam teori koneksionisme menghasilkan teori Law of Effect, Readiness, dan exercise. Hukum Law of Effect menyatakan bahwa pengaruh respon diulang bila kepuasan diperkuat, dan respon akan melemah jika tidak ada rasa nyaman.
Ia juga mencetuskan hukum Law of Readiness (hukum kesiapan), maknanya suatu kesiapan (readiness) terjadi berlandaskan asumsi bahwa kepuasan organisme berasal dari pendayagunaan satuan pengantar (conduction unit). Unit-unit tersebut yang menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat dan tidak berbuat sesuatu. Hukum ketiga dari Thorndike adalah Law of Exercise, yang maknanya hubungan antara S dengan R akan semakin bertambah bila sering dilatih dan sebaliknya.
 Implementasi dalam Kelas
Salah satu implementasi tero Thorndike tersebut adalah:
(1) Guru harus terus-menerus memberikan stimulus positif agar siswa dapat membiasakan perilaku positif di kelas, dan
(2) Guru hendaknya menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran, mulai dari materi pelajaran, media hingga segala sesuatu yang terkait dengan aspek pembelajaran di kelas.
 4. Sistematik Teori Behavior Clark Leonard Hull
 Biografi Singkat
Clark Leonard Hull psikolog Amerika Serikat kelahiran 24 Mei 1884 (meninggal 10 Mei 1952). Hull adalah seorang behaviorisme yang berusaha menjelaskan pembelajaran, motivasi dalam aspek perilaku ilmiah.
Selain itu, ia juga dikenal atas teori drive. Dalam psikologi, teori Drive adalah teori yang mencoba untuk mendefinisikan, menganalisis, dan mengklasifikasikan drive psikologis.
Drive merupakan rangsakan yang dihasilkan oleh hangguan homeostatis (keadaan kondisi internal yang stabil yang dijaga oleh makhluk hidup). Setelah mengenyam pendidikan di University of Michigan, Hull menjadi pengajar di Universitas Wisconsin sebelum akhirnya pindah ke Yale University.
Sistematik Teori Behaviorsme
Clark Hull termasuk tokoh behaviorimse. Belajar menurutnya diperlukan sebuah penguatan terhadap pengetahuan yang sudah ada.
Prinsip-prinsip teori Hull diantranya adalah:
(1) Belajar harus ada reinforcement. Reinforcement bagi Hull berfungsi sebagai drive reduction
(2) dalam mempelajari hubungan S-R yang perlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsur O (organisme). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulan (inferred), efeknya dapat dilihat dari factor R (berupa output)
(3) Proses belajar baru terjadi setelah ada keseimbangan biologis (sangat mirip dengan gagasan Darwin tentang pentingnya adaptasi biologis suatu organisme).
Seorang pembelajar harus memiliki tujuan/keinginan (drive), memperhatikan sesuatu (cue), melakukan sesuatu (response), dan seorang pembelajar harus membuatnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan (reinforcement).
Praktik Dalam kelas
Guru Hullian (sebutan bagi seseorang yang mengidolakan Clarck Hull) harus melakukan pengkondisian sedemikian rupa agar mempermudah siswa dengan:
Mendistribusikan latihan dengan cermat agar hambatan tidak muncul, mereka juga menyarankan agar membagi topik-topik yang diajarkan sehingga pembelajar (siswa) tidak akan kelelahan dan menggangu prose belajar, topik-topik juga diatur sedemikian rupa sehigga topik-topik yang berbeda-beda akan saling berurutan.
Menurut Hull, belajar dikelas dapat diklasifikasikan dalam 3 tipe, yaitu stimulus discrimination, respon differentions, dan reward/punishment consequences.
Proses belajar juga dibedakan menjadi belajar kebiasaan dan belajar intensif. Makin banyak belajar, maka makin banyak reinforcement (penguatan) dan motivasi yang diperlukan juga semakin besar.
Guru harus merencanakan kegiatan belajar berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap dorongan yang mendasari siswa.
 5. Social Learning Albert Bandura
 Biografi singkat
Albert Bandura adalah psikolog Kanada-Amerika terkemuka kelahiran 4 Desember 1925. Albert Bandura merupakan salah satu diantara 10 psikolog yang sering dikutip di dunia. Bandura mempunyai kontribusi dalam perumusan teori kognitif sosial, sebelumnya Bandura adalah behaviorisme dengan teori pembelajaran sosialnya.
Bandura menerima gelar BA dari Universitas British Columbia, gelar MA dan Ph,D dari Iowa University. Pada tahun 1953, Bandura mengajar di Universitas Stanford hingga menjadi Professor emeritius David Starr Jordan.
Teori Belajar Sosial
Bandura dikenal sebagai seorang Neobehaviorisme, karena ia juga terpengaruh aliran kognitivisme. Dalam teori Belajar sosial, seseorang belajar melalui pengamatan perilaku atau sikap orang lain.
Mayoritas perilaku manusia dipelajari melalui kegiatan observasi kemudian menjadi pemodelan. Kondisi yang diperlukan untuk pemodelan yang efektif, diantaranya harus ada: Atensi (perhatian), Retensi (ingatan), Reproduksi dan Motivasi.
Menurut Bandura,anak dapat belajar dari pengamatan tetapi tidak selalu menampilkannya ke dalam perilakunya.
Ia mengindetifikasi tiga model dasar pembelajaran observasi:
  1. Live Model – model hidup, yakni model yang memerankan perilaku
  2. Verbal Instructional Model – model pembelajaran verbal, yang melibatkan deskripsi dan penjelasan lisan
  3. Symbolic Model – model simbolik, yang melibatkan karakter nyata atau fiksi, model yang menampilkan perilaku dalam buku
 6. Asosiasi Stimulus Respon Edwin Guthrie
Edin Ray Guthrie psikolog perilaku Amerika kelahiran Nebraska 9 Januari 1886 (meninggal 23 April 1959). Guthrie memulai karir sebagai guru matematika sebelum beralih menjadi psikolog. Dia menghabiskan waktu hidupnya sebagai dosen dan professor bidang psikologi di Universitas Washington.
Guthrie dikenal atas teorinya tentang pembelajaran yang didasarkan pada asosiasi stimulus-respon -banyak digambarkan sebagai teori percobaan, non-penguatan, dan pembelajaran kedekatan.
DAlam teorinya, Guthrie berpendapat bahwa organisme menggunakan otot dan mengeluarkan getah kelenjar sebagai respon yang disebut gerakan. Menurutnya, tindakan terdiri atas rentetan gerakan adalah sama dengan hokum kontinguitas.
Kontinguitas adalah kombinasi stimulus yang dibarengi dengan gerakan tertentu, yang jika dihadirkan kembali akan diikuti oleh gerakan tersebut.
Dalam proses belajar, yang terhubung adalah stimulus (S) dan respon (R), tepatnya adalah stimulus yang mengenai organ tubuh dan sarafnya dan kemudian menimbulkan respon tersebut.
Teori belajar Guthrie dipandang lebih sederhana karena menekankan pada adanya stimulus dan respon yang nampak dan belum atau tidak memperhitungkan kegagalan dan hadiah (reinforcement).
Menurutnya, hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang di masa mendatang.
Ia juga berpendapat bahwa perilaku manusia dapat diubah, perilaku baik dapat berubah menjadi buruk, dan sebaliknya.
 7. Teori Belajar Behaviorisme JB Watson
John Broadus Watson psikolog Amerika sekaligus pendiri sekolah psikologi behaviorisme. Psikolog kelahiran 9 Januari 1878 tersebut mengenyam pendidikan di Universitas Columbia kemudian melanjutkan Ph.D di Universitas Chicago.
Di Chicago, Watson mulai melakukan riset perilaku dengan mengambil subyek penelitian hewan. Watson adalah editor pada jurnal psikologi internasional, Psychological Review danReview of General Psychology.
Dalam eksperimennya dengan judul “Little Albert.”, Watson menyatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki tiga reaksi emosi dasar:ketakutan, kemarahan, dan cinta. Ketiga emosi ini akan menarik perhatian orang karena memaksa mereka untuk berespon dengan perasaanya.
Watson menyatakan lagi bahwa perilaku manusia terdiri dari refleks terkondisi dan dikontrol oleh lingkungan yang membentuknya.

Mengurangi dan Menghilangkan Perilaku yang Tidak Diinginkan

Tokoh behavioristik, memberikan solusi dan strategi dalam mengurangi dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan, yakni (1) Ekstinksi, (2) pemberian isyarat (cueing), dan (3) pengurangan perilaku yang tidak sesuai dan hukuman.
Berikut penjelasan ringkasnya.
Pertama, Ekstinksi. Ekstinksi adalah mengurangi frekuensi perilaku yang tidak sesuai dengan cara memastikan bahwa perilaku tersebut tidak pernah diberi penguatan.
Kedua, Memberikan isyarat (cueing). Cara ini adalah memberikan isyarat kepada anakk tentang apa yang seharusnya tidak mereka lakukan, salah satunya adalah menggunakan bahasa tubuh.
Ketiga, Pengurangan perilaku dan hukuman. Kita dapat mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan/tidak produktif hanya memberikan penguatan pada perilaku alternatife (yang positif). Selain itu dengan memberikan hukuman, seperti: tegran verbal (scolding), biaya respon, konsekuensi logis, skors,.
Bentuk hukuman untuk mengurangi perilaku negatif seringkali digunakan oleh orang tua atau guru, namun mereka harus tahu ada bentuk-bentuk hukuman yang tidak efektif, seperti hukuman psikologis, tugas kelas ekstra.

Tips Mengurangi dan Mengilangkan Perilaku yang tidak Diinginkan Perspektif Behaviorisme 

  1. Jangan memberikan penguatan pada perilaku yang tidak diinginkan.
  2. Berikan isyarat kepada siswa ketika Anda melihat mereka melakukan perilaku yang tidak sesuai.
  3. Doronglah dan beri penguatan terhadap perilaku yang berlawanan dengan perilaku yang tidak diinginkan.
  4. Jelaskan baik perilaku yang tepat maupun yang tidak tepat, juga konsekuensi-konsekuensinya, dengan kata-kata yang jelas dan eksplisit.
  5. Tekankan bahwa perilakulah, dan bukan siswa yang tidak diinginkan.
  6. Bantulah siswa memahami mengapa perilaku tertentu tidak dapat diterima.
  7. Ketika perilaku yang tidak patut terus berulang kendati telah mengerahkan segenap usaha untuk memperbaikinya, carilah nasehat ahli.

Tips Mendorong Perilaku Produktif Perspektif Behavioristik 

  1. Gunakan isyarat/tanda terhadap perilaku yang sesuai/tepat.
  2. Berikan penguatan kepada perilaku yang diinginkan.
  3. Ingat bahwa hal-hal berbeda memberikan penguatan pada siswa yang berbed apula.
  4. Ketika tingkat baseline suatu perilaku yang diinginkan itu rendah, perlahan-lahan bentuklah perilaku itu sepanjang waktu dengan memberikan penguatan pada perkiraan-perkiraan yang mendekati perilaku itu.
  5. Berikan kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkkan perilaku yang diinginkan dalam berbagai konteks.
  6. Berikan umpan balik mengenai perilaku spesifik dan bukan yang umum.
  7. Begitu siswa menampilkan perilaku yang diinginkan dengan sering, teruslah menguatkannya sebentar-sebentar untuk mencegak ekstinksi.

Kritik Teori Behaviorisme 

Para praktisi pendidikan dan psikolog banyak mengkritik teori behaviorimse (Suyono & Hariyanto: 20111), diantara kritik mereka: 
  1. Behaviorisme tidak mengadaptasi pelbagai macam jenis pembelajaran, karena mengabaikan aktivitas pikiran
  2. Behaviorisme tidak mampu menjelaskan beberapa jenis pembelajaran, misalnya pengenalan pola-pola bahasa baru anak-anak kecil, karena di sini tidak ada mekanisme penguatan.
  3. Riset menunjukkan bahwa binatang mampu mengadaptasi penguatan mereka terhadap informasi baru.
  4. Behaviorimse sering tidak mampu menjelaskan situasi belajar kompleks.
  5. Pandangan behaviorisme kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.
  6. Pandangan behaviorisme tidak memperhatikan pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang dapat diamati sebagai akibat hubungan S-R
  7. Pandangan behaviorisme cenderung mengarahkan siswa berpikir linier, konvergen, tidak kreatif, dan tidak produktif.
 Selain beberapa kelemahan di atas, sebagian behaviorime juga mengkritik teori tersebut. Edwar C Tolman percaya bahwa semua perilaku ditujukan pada tujuan tertentu. Ia menggunakan eksperimen tikus yang mencari makanan dalam maze. Dalam percobaan tersebut membuktikan bahwa terdapat skema atau peta dalam kognisi tikus (You Tung: 2015).

Kesimpulan

Saya mengutip Dale H Schunk, Behaviorisme sebagaimana yang diungkapkan dalam teori-teori pengkondisian, teori ini menjelaskan pembelajaran dalam kaitannya dengan peristiwa-peristiwa lingkungan.
Proses-proses mental tidak diperlukan untuk menjelaskan penguasaan, pemertahanan, dan generalisasi perilaku. Teori pembelajaran behaviorisme di jelaskan oleh Thorndike, Pavlov, dan Guthrie.

Sumber Referensi:

  • Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories. London: Pearson Education
  • Tung, Khoe Yao. 2015. Pembelajaran dan Perkembangan Belajar. Jakarta: Indeks
  • Nurhidayati, Titin. 2012. Implementasi Teori Belajar Ivan Petrovich Pavlov (Classical Conditioning) Dalam Pendidikan. Jurnal Falasifa

Tidak ada komentar