Membuat Kue Pie Isi Coklat Kacang yang Lezat

Kue Pie Isi Coklat Kacang
Kali ini kami akan membagikan tips atau cara membuat kue pie isi yang lezat. Kue ini bisa di sajikan di acara spesial, misalnya hari raya idul fitri atau acara lain disaat berkumpul dengan keluarga.  Untuk membuat kue pei ini cukup mudah dan praktis.  Kita bisa memberi varian isi untuk kue pei ini, namun pada kesempatan ini kita akan membuat pie isi coklat kacang. Semoga Resep ini bermanfaat dan menjadi referensi bagi ibu untuk membuat kue pei yang lezat.

Membuat Kue Pie Isi Coklat Kacang
Bahan Kue Pei
50 gram gula bubuk
100 gram margarin
2 butir kuning telur
75 gram kacang tanah,haluskan
150 gram tepung terigu
Garam secukupnya
2 sendok makan air es,dingin

Bahan Isi Pie Coklat
1 sendok makan cokelat bubuk
100 gram dark chocolate cooking,potong
30 gram gula pasir
300 ml susu cair
30 gram tepung maizena
60 gram kacang kenari atau kacang madu,cincang halus

Langkah Membuat Kue Pei Isi Coklat Kacang:
1. Untuk membuat kulit pie coklat, pertama masukkan semua bahan, kemudian aduk hingga tercampur rata.
2. Tuangkan di dalam cetakan kue pie mini, pipihkan dan tusuk menggunakan garpu. Kemudian panggang kedalam oven selama 10 menit hingga matang, suhunya kurang lebih 175° C, angkat dan sisihkan.
3. Untuk membuat vla kue pie, masukkan gula pasir, cokelat bubuk, susu cair kedalam panci, lalu aduk dan didihkan. Kemudian campur tepung maizena, aduk hingga larut. Masukkan potongan cokelat masak, aduk hingga larut merata dan mengental, lalu angkat.
4.   Selanjutnya susun kulit pie dan masukkan vla atau isinya,kemudian sajikan, selesai.

Semoga bermanfaat Selamat membuat kue pie coklat kacang enak dan lezat ini di rumah. 

Munculnya istilah PAKEM

Munculnya istilah PAKEM
Istilah PAKEM muncul dari berbagai pendekatan yang berkembang selama ini, seperti SAL (student active Ieaming) yang di Indonesia dikenal dengan CBSA (cara belajar siswa aktif), dengan latar belakang teori pengajaran dan pengajaran (teaching and learning theory) yang mendukungnya. Pembelajaran aktif (active Ieaming) merupakan salah satu model pembelajaran yang melahirkan PAKEM.

Model pembelajaran aktif dinilai memang dapat (1) menciptakan ketertarikan bagi siswa (creating excitement in the Classroom), (2) memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat berfikir dan bekerja (getting students to think and work). Bagaimana pun juga pembelajaran aktif disarankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran untuk membuat siswa lebih banyak melakukan sesuatu daripada hanya sekedar mendengarkan (student must do more than just listen). Siswa harus membaca, menulis, mendiskusikan, atau terlibat secara aktif dalam pemecahan pelbagai masalah (they must read, write, discuss, or be engaged in solving problems). Lebih dari itu, siswa dilibatkan secara aktif dalam proses berfikir tingkat tinggi (higher order thinking) seperti untuk kegiatan analisis, sistesis, dan penilaian (Chikering and Gamson, 1987).

Strategi pembelajaran aktif kemudian lebih dikenal dengan pembelajaran siswa aktif (student active learning) atau disngkat SAL, yang di indonesia melahirkan pendekatan pembelajaran yang diberi nama Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Sayang pendekatan yang bagus ini dalam pelaksanaannya mengalami banyak penyimpangan. Misalnya, aktivitas siswa lebih bersifat fisik, seperti mengubah-ubah pola tempat duduk untuk kegiatan diskusi kelompok kecil. Kegiatan berfikir tingkat tinggi yang dilakukan lebih banyak dalam bentuk diskusi kelompok dan melaporkan hasil kegiatan diskusi kelompok di depan kelas. Akibatnya, target pencapaian kurikulum mengalami kedodoran.

Di perguruan tinggi dikenal satu metode yang amat populer karena segi akademis dan kegiatan ilmiahnya, yakni problem-based learning (PBL). Prinsip metode ini juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk secara aktif dalam proses perumusan masalah sampai dengan pemecahan masalah yang ada dalam konteks bidang kehidupan sehari-hari.

Aspek kehidupan yang kini mendapatkan perhatian adalah proses demokratisasi, transparansi, dan kebebasan mengeluarkan, serta perlindungan manusia terhadap hak azasi manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Pandangan terhadap aspek-aspek tersebut menempatkan peserta didik bukan hanya sebagai obyek didik yang hanya menerima perlakuan apa saja yang diberikan oleh gurunya, melainkan sebagai subyek didik yang harus dilibatkan dalam penentuan bahan ajar serta pola pembelajaran yang akan mereka terima dari pendidik. Perlakuan kasar dari guru kepada siswa, atau tekanan-tekanan fisik dan mental kepada peserta didik bukan saja dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk pelanggaran hak azasi manusia (HAM), tetapi juga justru memiliki implikasi yang kontraproduksi dalam proses pembelajaran. Dalam psikologi anak, perlakuan orang dewasa berupa tekanan fisik dan mental kepada peserta didik atau anak-anak dikenal dengan bullying.

Proses belajar mengajar tidak mungkin anak berlangsung dalam suasana penuh tekanan fisik dan mental. Bahkan dalam buku best seller bertajuk The Learning Revolution, Gordon Dryden and Jeannette Voh, 2002: 23-29, dalam Suparlan, 2004: 67-68) menyebutkan tujuh belas model revolusi pembelajaran yang diyakini akan mempengaruhi cara belajar peserta didik. Salah satu model tersebut adalah “belajar akan efektifjika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan”.


Dari pelbagai latar belakang pemikiran tersebut maka di negeri ini telah tersemai satu model pembelajaran yang kemudian dikenal secara luas sebagai PAKEM, yakni singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Model pembelajaran ini menjadi terkenal luas dalam khasanah pembelajaran di Indonesia berkat adanya berbagai bentuk penataran dan pelatihan yang telah diadakan oleh berbagai pihak dalam berbagai kesempatan. Suasana pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning) menjadi salah satu karakteristik utama PAKEM, di samping karakteristik-karakteristik lainnya yang tidak kalah penting, yakni aktif, kreatif, dan efektif.

Menjaga Anugerah Ilmu

Menjaga Anugerah Ilmu
Ulama merupakan pewaris para Nabi. Mereka tidak mewariskan harta benda yang mudah hilang dan rusak, melainkan mewariskan agama Allah SWT yang didasarkan pada ilmu, hikmah, pemahaman terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya, pembersih jiwa dan hubungan dengan Sang Khaliq serta penghias jiwa dengan akhlaq mulia. Ulama juga biasa disebut dengan orang yang berilmu (Alim), maka tidak heran perilaku-perilaku Ulama ini diwarisi dari beberapa Nabi terdahulu.

Contohnya, Nabi Nuh AS memiliki warisan berupa kesabaranya dalam menyampaikan risalah dan kesabaran dalam menghadapai godaan kaumnya yang tidak mau mengikuti jejaknya di jalan Allah SWT. Selain itu juga Nabi Ibrahim AS mewarisi ulama berupa keberanian dan kesengajaannya menentang para musuh. Dan Nabi Muhammad berupa budi pekerti yang luhur, universalitas risalah yang dibawa Rahmatan lil Alamin dan kebersihan serta kelurusan agama yang dibawa.

Ada beberapa perangai dan etika yang harus melekat pada diri mereka yang berilmu di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bergelut dengan ilmu, mencintainya dengan sangat, mencurahkan waktunya untuk . menambah ilmu secara konstan.
  2. Mengamalkan ilmu yang dimiliki.
  3. Takut kepada Allah setiap kali bertambah ilmu dan pengetahuanya tentang keagungan Allah.
  4. Memandang rendah dunia dan kenikmatan-kenikmatan semua yang ada didalamnya serta hiasan-hiasan dunia dan kesenangan-kesenangan yang hina.
  5. Rendah hati terhadap hamba-hamba Allah, simpati terhadap orang-orang yang belajar, sayang terhadap mereka, tidak terburu-buru dalam mengajar mereka, menganggap mereka seperti anaknya sendiri yang membutuhkan bantuan, sabar menghadapi kebodohan.
  6. Ikhlas dalam mengajar dan memberikan ilmu kepada orang lain menuju dan mencari ridha Allah semata.
  7. Tetap memegang ilmu dan memperluas pemahamannya terhadap hal-hal yang sangat rumit, memperoleh intisari ilmu, mencapai batas ilmu.
  8. Harus bermurah hati, menjaga kewibawaan, perlahan-lahan (sabar) dan melapangkan dada, karena ilmu tidak akan terhiasi tanpa kemurahan hati dan akhlak yang mulia. 
  9. Sabar dalam menghadapi sikap orang-orang bodoh, gangguan orang -orang yang iri hati, kebohongan para pendusta dan permusuhan orang-orang yang membencinya.
  10. Memberikan ilmu kepada orang yang membutuhkannya menerangkan dan menjelaskan serta menjauhi sifat menyembunyikan ilmu dengan Cara sombong terhadap orang yang  mencarinya

Naskah: Tirta Sari

Indonesian Folktales: Malin Kundang


Malin Kundang
Once upon a time , there lived a fisherman family on the coastal area of Sumatera. The family consisted of a father, a mother, and a son. The son was Malin Kundang. The family had a financial problem. so Malin's father decided to go overseas.

"My wife and son, I have to sail. I will make money somewhere. I wil be back after I get enough money." said Malin Kundang's father.

He sailed to the far away places by his ship to earn for a living.

Malin then lived with his mother. They stayed in their hut. Some weeks passed but Malin's father had not yet come back. Even there was no news about his father after a year. As a consequent, Malin's mother had to be the breadwinner for the family.

Malin Kundang was smart but a naughty boy. He likes to run after cocks or hens and hit them with stick. One day, when Malin Kundang tried to catch a cock, he stumbled on a stone. His right arm was hurt and the scar became permanent.

Some years passed and Malin Kundang grew more mature. He was a strong and handsome boy. He often thought about his family. "My mother works hard while my father never comes back. I have to help my mother. I have to be a rich man." He thought that he could get much money overseas. He dreamed of being a wealthy man when he came back from foreign country.

One day a ship's captain invited him to sail across the sea. The captain said that he had been poor. but after he had gone abroad. he became rich.

"Malin, you will be rich if you go overseas. You can do many things there and make more money,“ said the ship's captain.

"I think you're right, captain." Malin Kundang replied.

Malin Kundang was very interested to the invitation. Then, he asked permission to his mother.
"Mother, would you let me sail with the captain? I believe I will get success on abroad.‘ said Malin Kundang.

"But, Malin, why don't you stay here and help your mother?"

"Mother, I believe that I will get success and be a rich man. I promise that I will be home after l get much money. l just want to make you happy." 

I Actually, Malin's mother was objected with Malin's idea; however Malin's desire was so strong. His mother finally gave him permission to go overseas. Malin's mother prepared everything for her son. Before Malin's departure, she gave a message.

"My Dear Son, if you get what you want, don't forget to come home. Don't forget your mother and your village.’ said his mother with tears rolling down her eyes.

Malin Kundang got into the ship. Soon the ship sailed across the sea as Malin was seeing her mother waving her hand. During the voyage, Malin Kundang learned a lot about sailing and ship. The experienced sailors taught him how to be a good sailor. In the middle of the sea, suddenly Malin's ship was hijacked by pirates.

"They're pirates!“ one of the sailors shouted.

The sailors try to fight against the pirates but they were too weak. The pirates took everything in the ship and killed almost passengers and sailors. Malin Kundang was very lucky. He wasn't killed because he was hiding in a little cabin when the piracy took place. He hid behind some logs and nobody could see him.

After the pirates had left the ship, Malin came out of the cabin. His ship was afloat in the middle of sea and he was alone inside.

“What can I do now?” Malin Kundang was so confused, but he remembered that he could not fail to make his dream come true.

"This is my ship now. I am alone but l have to make it ashore.
Malin tried hard to take the ship to the nearest island. After a few days, the ship could be ashore on a coast.

There was a village near the coast. Malin was helped by the villagers there after he told them the story about the ship's voyage and piracy. Even a rich man gave him job. Malin Kundang worked very hard. Because of his intelligence, he was trusted by his master to be the assistant. Gradually, Malin became a famous man in the village. Then, Malin built his own company. He got more success and became a new wealthy man. He had many ships and hundreds of employees. After that, he mam'ed a girl from that village.

At Malin's birthplace, his mother heard that Malin had become a successful and well-known man. She also knew that Malin had married. She was very happy and she thanked to God because Malin could reach his dream. Everyday she went to the harbor and hoped that Malin Kundang would come home soon.

"My son, please come back. You have promised that you will be back after you are rich," Malin's mother said to herself.

After his marriage, Malin Kundang planned to do a cruise. He would use the biggest and the most luxurious ship he had. Then he departed and finally reached his birthplace's harbor. Meanwhile, his mother was sitting near the harbor. She saw a couple standing on the ship. She was sure that the man was her son, Malin Kundang.

Malin Kundang got off his ship and was greeted by the people. His mother saw a scar on his right arm. lt made her sure that the man was her son.

"Malin Kundang," said his mother.

But Malin Kundang only turned his head without words. His motherthen got close to him and hold him.

"Malin Kundang, l am your mother. Why do you go too long without giving any news?" said her mother.

Unexpectedly, Malin Kundang refused her mother and even pushed her until she fell on the ground.

"Who are you? How dare you, claiming me as your son?"

Malin Kundang Actually, Malin Kundang knew that she was her mother, but he was ashamed to confess it because her mother was old and poor. Therefore, he pretended he didn't recognize her.

"ls the woman your mother?" asked Malin's wife.

”No, it is impossible. She is just a beggar who acted as if she were my mother. She just wants to take my wealth," said Malin Kundang.

Hearing Malin's words, his mother was very sad and irritated. She couldn't believe that Malin Kundang had dumped her. ln her anger, she said.

"Oh God, lf he is my son, | wish him to be a stone," Soon afterwards, a hurricane occurred and beat Malin's ship. Then, Malin Kundang's body went stiff and finally he became a stone.

Mengenal Surat Pribadi

Surat PribadiSurat Pribadi

Surat pribadi adalah surat yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Surat pribadi dapat berupa korespondensi antara sesama teman atau keluarga. Ciri-ciri surat pribadi di antaranya: tidak menggunakan kop surat, tidak ada nomor surat, salam pembuka dan penutup bervariasi, penggunaan bahasa yang bebas (sesuai keinginan penulis), serta isi dan format surat bebas.

Perhatikan contoh surat yang ditulis Maria kepada temannya, Susan yang tinggal di Sorong, Papua!

Jakarta, 25 November 2013

Untuk 
Sahabatku Susan 
Jln. Trikora, Manokwari

Papua Barat

Salam sejahtera untuk Susan temanku,

Bagaimana kabarmu, San? Semoga kamu dan keluarga dalam keadaan sehat dan baik. Aku di Jakarta juga baik, meskipun beberapa waktu lalu aku terserang batuk dan flu.

Oia, sebelumnya, aku minta maaf karena baru bisa mengirimi kamu surat sekarang. Sudah satu tahun kita : tak berkirim surat. Bagaimana dengan teman-teman kita di Manokwari? Aku kangen sama mereka, San. Aku sudah mendapatkan teman baru di sini. Mereka sangat ramah dan perhatian. Suasana di sekolah baruku juga menyenangkan.

Bagaimana dengan liburan semester ini? Apa sudah ada rencana untuk mengisi liburan? Kalau aku, sepertinya hanya di rumah saja. Aku sempat sakit, San. Tadinya, aku khawatir terkena flu burung. Tapi, syukurlah ternyata hanya flu biasa. Ayah dan Ibu bilang aku harus lebih memperhatikan kesehatan. Kata mereka, dengan tidak jajan sembarangan, rajin berolah raga, dan istirahat cukup dapat mencegah kita dari penyakit.

Baiklah, San, sekian dulu surat dariku. Jangan lupa, sampaikan salamku untuk keluargamu dan teman-teman di Manokwari, ya! Semoga kamu sekeluarga selalu sehat. Kutunggu balasan surat darimu.

Salam kangen
Temanmu,

Marina


Mengenal Bagian-bagian Surat

l. Pembukaan
Bagian ini berisi kota dan tanggal penulisan surat, kepada siapa surat ditujukan, salam, dan ucapan pembuka. Ucapan pembuka biasanya berisi pertanyaan tentang keadaan orang yang dikirimi surat.

2. Isi
Bagian ini berisi cerita atau pesan yang ingin disampaikan si pengirim surat. Pada contoh surat Maria, ia menceritakan tentang pengalaman liburan di tempat tinggal barunya, di Jakarta.

3. Penutup
Bagian ini berisi ucapan penutup, salam penutup, dan nama/ tanda tangan si pengirim surat. Bagian ini merupakan bagian untuk mengakhiri isi surat secara keseluruhan.


Bagian-bagian Surat
Bagian-bagian Surat

Mengenal Pemerintahan Desa

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan desa? Pernahkah kamu pergi ke desa? Apakah kamu tinggal di desa? Desa merupakan kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri dan dikepalai oleh seorang kepala desa. Bagaimana sistem pemerintahan desa? Ayo, simaklah penjelasan mengenai desa berikut!

Pemerintahan Desa
Desa adalah kesatuan wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri. Sebutan untuk desa di berbagai daerah di lndonesia berbeda-beda. Di Papua, Kutai Barat, Kalimantan Timur, dan Banten, desa disebut Kampung; di Yogyakarta, desa disebut Dusun; di Bali, desa disebut Banjar; di Sumatra Barat, desa disebut Nagari; di Tapanuli, desa disebut Huta; di Nanggroe Aceh Darussalam, desa disebut Gampong; di Sulawesi Selatan, desa disebut Lembang; dan di Maluku, desa disebut Negeri.

Suasana desa dengan gunung dan sawah yang hijau
Suasana desa dengan gunung dan sawah yang hijau

Kehidupan sehari-hari masyarakat desa masih tradisional. Pada umumnya masyarakat desa bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, buruh tani, berkebun, dan beternak Kehidupan masyarakatnya pun masih dipengaruhi oleh hubungan antar individu yang kuat. Hubungan kekeluargaan atau kekerabatan terjalin sangat erat.

Kehidupan masyarakat desa dipimpin oleh kepala desa. Sebutan untuk kepala desa juga sangat beragam. Di Kalimantan Timur, kepala desa disebut Kepala Kampung atau Petinggi; di Madura, kepala desa disebut Klebun; di Kalimantan Selatan, kepala desa disebut Pambakal; dan di Sulawesi Utara, kepala desa disebut Hukum Tua. Kepala desa dipilih langsung oleh penduduk desa yang sudah mempunyai hak pilih. Kepala desa yang terpilih dilantik oleh bupati paling lambat tiga puluh hari setelah dinyatakan terpilih. Dalam menjalankan tugasnya, kepala desa dibantu oleh sekretaris desa (carik) dan perangkat desa yang disesuaikan dengan kebutuhan desa. Sekretaris desa membawahi beberapa kepala urusan (kaur). Kepala urusan (kaur) merupakan perangkat desa yang mengurusi urusan-urusan, di antaranya urusan pemerintahan, urusan pembangunan, urusan kesejahteraan masyarakat, dan urusan keuangan. Kepala desa wajib menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada camat dan bupati/ walikota.

Dalam menjalankan pemerintahan desa, kepala desa juga bekerja sama dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). BPD merupakan perwakilan penduduk desa yang terdiri atas tokoh masyarakat dan ditetapkan berdasarkan musyawarah. Fungsi BPD yakni menetapkan peraturan bersama kepala desa, menampung, dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

Adapun urusan pemerintahan yang menjadi wewenang desa adalah sebagai berikut.
  1. Urusan tingkat pemerintahan yang sudah ada berdasarkan sejarah desa, misalnya mengangkat ketua RW dan RT.
  2. Urusan tingkat pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota tetapi pengaturannya diserahkan ke desa, misalnya membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK),
    contoh KTP
    Contoh KTP
    Contoh KK
    Contoh KK
  3. Pelimpahan tugas dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota, misalnya membantu mengumpulkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari masyarakat desa.
  4. Urusan pemerintahan lainnya, dalam peraturan perundang undangan diserahkan ke desa, misalnya pembentukan BPD dan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).

Ronda Malam
Ronda Malam
Dalam pemerintahan desa, dikenal pula lembaga kemasyarakatan. Lembaga kemasyarakatan tersebut, yakni Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Pertahanan Sipil (HANSIP), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU), dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Tugasnya adalah membantu pemeritah desa dalam menyelenggarakan pemerintahan desa. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga ini adalah sebagai berikut.
  1. Berpartisipasi dalam menyusun rencana pembangunan desa,
  2. Berpartisipasi dalam memanfaatkan, memelihara, dan mengembangkan pembangunan desa.
  3. Menggerakkan gotong royong dan swadaya masyarakat.
  4. Meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat.
  5. Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.